::CHEDANK ONE ::

BLOG BELAJAR TENTANG APA SAJA DAN APA ADANYA

Simbol Ladder Diagram (Seri Belajar PLC)

Simbol Ladder Diagram (Seri Belajar PLC)


simbol ladder diagram Simbol Ladder Diagram
Materi ini melanjutkan seri belajar PLC dari seorang pemula yang mencoba jadi orang bermanfaat :), seperti pada postingan sebelumnya yaitu pemrograman PLC, symbol ladder diagram digunakan digunakan pada pemrograman plc berbasis Grafis yaitu pada metode diagram tangga atau ladder diagram,
Simbol ladder diagram ini terdiri dari berbagai simbol diantaranya yaitu :
  • Load/LD
LD
Input normally open yaitu input dengan kondisi awal dalam keadaan terbuka.
  •  Load Not/LD Not
LD Not



Input normally close yaitu input dengan kondisi awal dalam keadaan tertutup/close
  • AND
AND



Menghubungkan dua atau lebih input dalam bentuk normally open secara seri
  •  AND Not
AND Not



Menghubungkan dua atau lebih input dalam bentuk normally close.
  •  OR
OR





Menghubungkan dua atau lebih input dalam bentuk normally open secara parallel
  • OR Not
OR Not





Menghubungkan dua atau lebih input dalam bentuk normally close secara parallel.
  • OUT
OUT



Sebagai output, output akan on apabila kondisi semua input terpenuhi.
  • END
END


Untuk mengakhiri semua instruksi pada logika pemrograman.
Pemrograman PLC (Seri Belajar PLC)

Pemrograman PLC (Seri Belajar PLC)


Pemrograman PLC Pemrograman PLC yaitu cara untuk memprogram PLC agar plc mengerti logika yang diinginkan oleh penyusun/pembuat logika tersebut. Dari awal mula pembuatan plc, masing-masing produsen memiliki cara sendiri dalam pemrograman PLC tapi secara garis besar hanya ada dua jenis pemrograman PLC.





1. Bahasa Tekstual
Menggunakan teks dalam pemrograman PLC, dibagi menjadi dua metode yaitu :
  1. Daftar instruksi.
  2. Teks terstruktur.
2. Bahasa Grafis
Menggunakan gambar grafis dalam pemrograman PLC. Bahasa ini lebih umum digunakan terutama oleh saya sebagai pemula J. Bahasa ini dibagi menjadi dua metode yaitu
  1. Diagram Tangga/ladder diagram.
  2. Diagram Blok.
Scan Time dan Operasi Pembacaan
Waktu yang diperlukan untuk membaca input, mengeksekusi programa, update output dinamakan dengan scan time. Scan time mengindikasikan seberapa cepat controller bisa bereaksi terhadap input dan menyelesaika kontrol logika. Scan time sangat dipengaruhi oleh oleh kecepatan prosesor (CPU) dan panjang program user misalnya ladder. Panjang program user mempengaruhi scan time karena hal ini berkaitan dengan operasi pembacaan.
Selama masukan dibaca, terminal- teminal masukan dibaca dan dimasukkan dalam tabel status masukan yang di update secara bertahap menurut urutan pembacaan masukan. Selama proses pembacaan program, data yang dibaca dan masukan dalam tabel status masukan kemudian diterjemahkan pada pengguna program. Saat program dieksekusi, tabel status keluaran di update secara cepat sesuai dengan perubahan.
Ketika terjadi proses pembacaan, data yang terkumpul dalam tabel status keluaran dipindahkan ke terminal-terminal keluaran. Proses pembacaan suatu program ada dua macam, yaitu dari kiri ke kanan pada tiap rung (network) dan dari rung paling atas sampai rung paling bawah.

Ilustrasi Proses Beberapa Eksekusi Relay pada Diagram Tangga.
Konsep Logika ( Seri Belajar PLC )

Konsep Logika ( Seri Belajar PLC )

Simbol Gerbang OR

Konsep logika ini merupakan bagian penting dari dunia digital termasuk dalam mempelajari ic-ic digital (Gerbang logika), instruksi mikroprosesor atau mikrokontroller termasuk juga dalam pemrograman PLC. Konsep logika ini adalah dasar dari sebuah teknologi komputasi dalam pembuatan komputer hingga menjadi komputer yang sangat canggih yang biasa kita pakai sekarang ini.
Inti dari konsep logika yaitu “untuk menentukan hasil keputusan/output/keluaran dari satu atau beberapa input” karena ini dalam dunia digital maka diinterpretasikan oleh 1 atau 0. Atau dalam input yaitu sebuah saklar yang mempunyai dua keadaan yakni bernilai 1 atau ON jika saklar ditekan/close dan bernilai 0 atau OFF jika tidak ditekan/open.
Konsep logika terdiri dari beberapa fungsi/Gerbang logika dasar/utama, dari Gerbang logika dasar tersebut menghasilkan fungsi logika turunan. Fungsi logika dasar yaitu Gerbang AND, Gerbang OR, dan Gerbang NOT. Sedangkan turunannya yaitu NAND (NOT AND), NOR (NOT OR), XOR dan XNOR (NOT XOR).

1. Gerbang AND


A dan B sebagai input, sedangkan Y  sebagai output
Inti dari gerbang logika AND adalah
Gerbang AND akan memberikan keluaran/output 1 apabila semua masukannya/input bernilai 1”.
Tabel kebenarannya yaitu :
Input Output
A B Y
0 0 0
0 1 0
1 0 0
1 1 1
Keterangan: Input bisa lebih dari dua buah, tapi output tetap satu buah.
Analogi gerbang AND dalam rangkaian listrik yaitu sebagai berikut :

Karena saklar 1 diseri dengan saklar 2 terhadap lampu maka Lampu akan menyala/1 jika saklar 1 dan saklar 2 ditekan/close (1) , dan lampu akan mati/0 jika salah satu saklar dalam kondisi terbuka/open/0.
Lampu dalam kondisi on/nyala/1 :

Lampu dalam kondisi off/mati/0 :
 

2. Gerbang OR


A dan B sebagai input, sedangkan Y  sebagai output
Inti dari gerbang logika OR adalah
Gerbang OR akan memberikan keluaran/output 1 apabila salah satu masukannya/input bernilai 1”.
Tabel kebenarannya yaitu :
Input Output
A B Y
0 0 0
0 1 1
1 0 1
1 1 1
Keterangan: Input bisa lebih dari dua buah, tapi output tetap satu buah.
Analogi gerbang OR  dalam rangkaian listrik yaitu sebagai berikut :

Karena saklar 1 diparalel dengan saklar 2 terhadap lampu maka Lampu akan menyala/1 jika saklar 1 atau saklar 2 ditekan/close (1) , dan lampu akan mati/0 jika semua saklar dalam kondisi terbuka/open/0.
Lampu dalam kondisi nyala/on/1 :

Lampu dalam kondisi mati/off/0 :


3. Gerbang NOT


A input, sedangkan A(dibaca A bar)  sebagai output.
Inti dari gerbang logika NOT adalah
Gerbang NOT akan memberikan logika output yang berlawanan dari inputnya”.
Tabel kebenarannya yaitu :
Input Output
A Y
0 0
1 0
Keterangan: Input dan output hanya satu.
Penerapan dari gerbang not ini yaitu dikombinasikan dengan gerbang-gerbang sebelumnya yaitu gerbang AND dan OR membentuk gerbang baru yaitu misalnya :
  1. AND + NOT = NAND
  2. OR + NOT = NOR

4. Gerbang NAND


Gerbang NAND merupakan kebalikan dari gerbang AND atau kombinasi dari gerbang AND dan NOT.
Inti dari gerbang logika NAND adalah
Gerbang NAND akan memberikan keluaran/output 0 apabila semua masukannya/input bernilai 1”.
Tabel kebenarannya yaitu :
Input Output
A B Y
0 0 1
0 1 1
1 0 1
1 1 0
Keterangan: Input bisa lebih dari dua buah, tapi output tetap satu buah.

5. Gerbang NOR


Gerbang NOR merupakan kebalikan dari gerbang OR atau kombinasi dari gerbang OR dan NOT.
Inti dari gerbang logika NOR adalah
“Gerbang NOR akan memberikan keluaran/output 1 apabila semua masukannya/input bernilai 0 ”.
Tabel kebenarannya yaitu :
Input Output
A B Y
0 0 1
0 1 0
1 0 0
1 1 0
Keterangan: Input bisa lebih dari dua buah, tapi output tetap satu buah.

 6. Gerbang XOR


XOR merupakan singkatan dari exclusive-OR.
Inti dari gerbang logika XOR  adalah
Gerbang XOR  akan memberikan keluaran/output 0  apabila semua masukannya/input bernilai sama ”.
Tabel kebenarannya yaitu :
Input Output
A B Y
0 0 0
0 1 1
1 0 1
1 1 0
Keterangan: Input bisa lebih dari dua buah, tapi output tetap satu buah.

7. Gerbang XNOR


XNOR merupakan kebalikan dari XOR atau kombinasi dari XOR dan NOT.
Inti dari gerbang logika XNOR  adalah
“Gerbang XNOR  akan memberikan keluaran/output 1  apabila semua masukannya/input bernilai sama ”.
Tabel kebenarannya yaitu :
Input Output
A B Y
0 0 1
0 1 0
1 0 0
1 1 1
Keterangan: Input bisa lebih dari dua buah, tapi output tetap satu buah.
Langkah-langkah sistematis dalam perancangan sistem kontrol pada PLC

Langkah-langkah sistematis dalam perancangan sistem kontrol pada PLC

Pendekatan sistematis perancangan sistem kontrol dengan PLC

Langkah-langkah sistematis dalam perancangan sistem kontrol pada PLC, Dalam pembuatan projek yang melibatkan PLC secara umum yang dilakukan oleh suatu perusahaan yang bergerak dalam  pengerjaan proyek tersebut melakukan suatu langkah-langkah umum yang mudah untuk diaplikasikan yaitu :
1. Menentukan tujuan akhir proyek tersebut
Misalnya membuat sistem kontrol pada mesin pencetak botol. Atau bisa dilakukan dengan survei mesin yang sudah ada untuk membuat lebih sesuai dengan user inginkan.
2. Menentukan sequence atau urutan dalam pengoperasian mesin tersebut.
Misalnya sistem kontrol pada konveyor yaitu penekanan tombol untuk menjalankan konveyor kemudian terdapat sensor yang bertugas untuk mendeteksi adanya produk/barang yang cacat kemudian bila terdeteksi akan mengirimkan sinyal ke controller (PLC) dan PLC mengeluarkan sinyal ke output berupa buzzer dan menghentikan motor pada konveyor.
Untuk menentukan sequence ini lebih baik dan agar tidak lupa bila suatu saat ada revisi kembali yaitu menggunakan flowchart.
3. Menggambar wiring/pengkabelannya
Biasanya dalam suatu projek terdapat divisinya sendiri yaitu yang bertugas untuk menggambar pengkabelan secara keseluruhan dari sumber listrik misalnya 3 phase sampai pada bagian output, menggambar box panel dan menentukan jenis-jenis kabel yang diperlukan, menentukan label-label, dan bagian ini harus secara kontinue berkomunikasi dengan bagian pembuat program PLC. Kemudian setelah digambar (tool yang dipakai biasanya Autocad) maka kemudian dibuat sesuai gambar tersebut. jadi buat teman-teman elektro software ini kalau bisa menguasai, InsyaAllah cari kerja mudah :)
4. Penugasan Input dan Output
Semua device input dan output yang terhubung dengan PLC harus dapat ditentukan tujuannya dengan jelas. Device input seperti bermacam-macam switch, sensor dll dan device output seperti selenoid, valve elektromanetik, motor, induktor dll .
Setelah mengidentifikasi semua perangkat input dan output yang dipakai selanjutnya yaitu pemberian nomor/label yang akan dihubungkan dengan plc atau device lain. misalnya input X001.
5. Menulis program
Selanjutnya membuat program sesuai langkah-langkah operasi pada sistem kontrol, hal yang penting untuk diingat yaitu Program harus menimalisir dari kecelakaan kerja  (K3) misalnya penggunaan sensor, Efisiensi kerja dan Kemudahan pengguna (user friendly).
6. Memasukkan program pada memori/ download program
Untuk keamanan harus dipastikan program telah berjalan dengan baik atau meminimalisasi faktor-faktor yang dapat membahayakan lingkungan /user bila ada kesalahan logika pemrograman, atau bisa mensimulasikan terlebih dahulu, kalau pada omron pada CX Programmer terdapat kemudahan untuk mensimulasika ladder program yang telah dibuat.
7. Menjalankan sistem/komisioning
Sebelum memulai tombol push-button ditekan, harus benar dipastikan bahwa input dan output kabel tersambung dengan benar sesuai dengan tugas I/O. Setelah dikonfirmasi, operasi sebenarnya dari PLC dapat dimulai. Anda mungkin perlu untuk debug dan fine tune sistem kontrol jika diperlukan. Pengujian dijalankan secara menyeluruh sampai benar benar aman untuk dioperasikan oleh siapapun terutama operator.
Mungkin itu saja, semua bisa dilakukan dan tetap banyak faktor dilapangan ada yang berbeda dengan di teori namun sebagai bahan belajar saja untuk tahap awal karena untuk expert butuh banyak jam terbang tidak bisa instan, saya juga belum expert masih belajar dan belajar, intinya sederhana tapi faktor keamanan harus benar-benar diperhatikan. Bila ada saran-saran yang membangun demi kelengkapan tulisan ini bisa ditulis pada kolom komentar, maklum newbie :).
Terima kasih sudah berkunjung.
Contoh rangkaian kontrol konvensional dan konversi ke PLC (wiring PLC) seri belajar PLC

Contoh rangkaian kontrol konvensional dan konversi ke PLC (wiring PLC) seri belajar PLC


belajar plc 1 Contoh rangkaian kontrol konvensional dan konversi ke PLC (wiring PLC) merupakan lanjutan seri belajar PLC. Langsung saja :
Secara sederhana untuk merubah rangkaian konvensional ke plc memiliki konsep dasar sebagai berikut :
Rangkaian sederhana :

Bila saklar ditekan maka lampu akan menyala karena ada arus akan mengalir ke beban .

Jika digambarkan dalam wiring plc akan menjadi sebagai berikut :

Dan apabila dirubah dalam bentuk ladder diagram PLC dapat dilihat sebagai berikut. Misalnya dalam plc omron.



Input switch dihubungkan pada PLC pada alamat 0.01 kondisi awal yaitu N0 (normally open) . Saat swith diaktifkan  maka akan menyebabkan input 0.01 berubah menjadi NC. Dan mengaktifkan coil relay internal plc yaitu alamat 200.00. Saat coil internal relay internal pada alamat 200.00 on maka akan mengkatifkan contactnya dari NO menjadi NC. Saat menjadi NC maka akan mengaktifkan coil pada alamat 100.00 yang dihubungkan langsung dengan lampu. Dan membuat lampu tersebut on atau menyala.
Berikut contoh lainnya yaitu untuk mengontrol motor 3 phase :

Saat  Push Button (PB1) ditekan maka akan terjadi aliran arus dan mengakibatkan coil pada magnetic contactar (Mg) aktif dan membuat contact pada magnetic contactor (Mg) yang tadinya N0 berubah menjadi NC. Contact pada Mg diparalel dengan PB1 untuk self holding maksudnya saat PB1 dilepas maka arus akan tetap mengalir dari contact pada magnetic contactar(Mg) ke coil magnetic contact sehingga terus menerus on. Saat coil pada Mg on maka membuat contact Mg yang terhubung dengan motor 3 phase yang tadinya N0/tidak terhubung berubah menjadi NC dan menyebabkan motor 3 phase menyala.  Dan motor 3 phase akan terus on sampai coil pada Mg tidak aktif yaitu ketika Push Button 2 ditekan (yang kondisi awalnya NC atau terhubung menjadi NO atau tidak terhubung) sehingga memutuskan arus dari contac Mg yang diparalel dengan PB dengan coil Mg. Saat coil Mg tidak aktif maka contact yang terhubung dengan Motor 3 phase juga tidak aktif dan motor akan berhenti berputar.
Dari rangkaian diatas misalnya dimasukkan dalam wiring PLC akan menjadi sebagai berikut (misalnya PLC yang dipakai adalah PLC Omron CPM1A dengan sebelumnya menentukan input dan outputnya:

Inputnya : PB1 dan PB2
Outputnya : 1 Mg (magnenic contactor)
Keterangan :
PB1 : Push Button 1 untuk start : addres 0.01
PB2 : Push Button 2 untuk stop addres 0.02
Outputnya : 1 Magnetic Contactor dengan address 100.00 yang contact-contactnya dihubungkan dengan motor 3 phase
Dan apabila dirubah dalam bentuk ladder diagram PLC dapat dilihat sebagai berikut. Misalnya dalam plc omron CPM1A.

Saat PB1 ditekan maka output Mg on dan contact Mg juga on
Saat PB1 ditekan output tetap on karena self holding (contact Mg diparelel dengan PB1 On)

Mg off saat PB2 ditekan sekali kemudian dilepas

Demikian dari saya, semoga bermanfaat..sori kalo amburadul y..maklum newbie.
PLC: Diagram Tangga (Ladder) Dasar

PLC: Diagram Tangga (Ladder) Dasar

Sebuah diagram tangga atau Iadder diagram terdiri dari sebuah garis menurun ke bawah pada sisi kiri dengan garis-garis bercabang ke kanan. Garis yang ada di sebelah sisi kiri disebut sebagai palang bis (bus bar), sedangkan garis-garis cabang (the branching lines) adalah baris instruksi atau anak tangga. Sepanjang garis instruksi ditempatkan berbagai macam kondisi yang terhubungkan ke instruksi lain di sisi kanan. Kombinasi logika dari kondisi-kondisi tersebut menyatakan kapan dan bagaimana instruksi yang ada di sisi kanan tersebut dikerjakan.
Gambar 1. Contoh Diagram tangga
Sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1 tersebut, sepanjang garis instruksi bisa bercabang-cabang lagi kemudian bergabung lagi. Garis-garis pasangan vertikal (seperti lambang kapasitor) itulah yang disebut kondisi. Pasangan garis vertikal yang tidak ada garis diagonalnya disebut sebagai Normal Terbuka – Normally Open atau NO serta terkait dengan instruksi LOAD (LD), AND atau OR. Sedangkan pasangan garis vertikal yang ada garis diagonal-nya dinamakan Normal Tertutup – Normally Close atau NC serta terkait dengan instruksi-instruksi LD NOT, AND NOT atau OR NOT. Angka-angka yang terdapat pada masing-masing kondisi di gambar 1 tersebut merupakan bit operan instruksi. Status bit yang berkaitan dengan masing-masing kondisi tersebut yang menentukan kondisi eksekusi dari instruksi berikutnya.
Instruksi LOAD (LD) dan LOAD NOT (LD NOT)
Kondisi pertama yang mengawali sembarang blok logika di dalam diagram tangga berkaitan dengan instruksi LOAD (LD) atau LD NOT. (LD NOT). Masing-masing instruksi ini membutuhkan satu baris kode mnemonik. Contoh untuk instruksi ini ditunjukkan pada gambar 2.
Gambar 2. Contoh instruksi LD dan LD NOT
Sebagaimana ditunjukkan pada gambar 2, karena hanya instruksi LOAD atau LD NOT saja yang ada di garis instruksi (instruction line), maka kondisi eksekusi untuk instruksi yang di sebelah kanan-nya adalah ON jika kondisi-nya ON. Untuk contoh diagram tangga tersebut, instruksi LD (yaitu untuk normal terbuka), kondisi eksekusi akan ON jika IR000.00 juga ON; sebaliknya, untuk instruksi LD NOT (yaitu untuk normal tertutup), kondisi eksekusi akan ON jika IR000.00 dalam kondisi OFF.
Instruksi AND dan AND NOT
Jika terdapat dua atau lebih kondisi yang dihubungkan secara seri pada garis instruksi yang sama, maka kondisi yang pertama menggunakan instruksi LD atau LD NOT dan sisanya menggunakan instruksi AND atau AND NOT. Pada gambar 3 ditunjukkan sebuah penggalan diagram tangga yang mengandung tiga kondisi yang dihubungkan secara seri pada garis instruksi yang sama dan berkaitan dengan instruksi LD, AND NOT dan AND. Dan sama seperti sebelumnya, masing-masing instruksi tersebut membutuhkan satu baris kode mnemonik.
Gambar 3. Contoh penggunaan AND dan AND NOT
Instruksi yang digambarkan paling kanan sendiri (gambar 3) akan memiliki kondisi eksekusi ON jika ketiga kondisi di kiri-nya semuanya ON, dalam hal ini IR000.00 dalam kondisi ON, IR010.00 dalam kondisi OFF dan LR00.00 dalam kondisi ON.
Instruksi AND dapat dibayangkan akan menghasilkan ON jika kedua kondisi yang terhubungkan dengan instruksi ini dalam kondisi ON semua, jika salah satu saja dalam kondisi OFF, apalagi dua-duanya OFF, maka instruksi AND akan selalu menghasilkan OFF juga.
Instruksi OR dan OR NOT
Jika dua atau lebih kondisi dihubungkan secara paralel, artinya dalam garis instruksi yang berbeda kemudian bergabung lagi dalam satu garis instruksi yang sama, maka kondisi pertama terkait dengan instruksi LD atau LD NOT dan sisanya berkaitan dengan instruksi OR atau OR NOT. Pada gambar IV.6 ditunjukkan tiga buah kondisi yang berkaitan dengan instruksi LD NOT, OR NOT dan OR. Sekali lagi, masing-masing instruksi ini membutuhkan satu baris kode mnemonik.
Gambar 4. Contoh penggunaan OR dan OR NOT
Blok instruksi ini akan memiliki kondisi ekskusi ON jika cukup salah satu dari ketiga kondisi dalam keadaan ON, misalnya IR000.00 dalam kondisi OFF, IR0100.00 dalam kondisi OFF atau LR00.00 dalam kondisi ON.
Dalam hal ini instruksi OR dapat dibayangkan akan selalu menghasilkan kondisi eksekusi ON jika salah satu saja dari dua atau lebih kondisi yang terhubungkan dengan instruksi ini dalam kondisi ON.
Back To Top